Teras

Senin, 02 Januari 2012

Sajak: Ode Buat Sebiji Terompet

yang ditiup malam tadi. hingga dilindas pagi.

terompet dari benih sampah. botol air tak bermineral.
yang menghidupi tangantangan pemungut
sisasisa nafas dari setiap biji botol yang hampir tamat.

botol sekarat itu lalu dijual si pemungut ke penadah yang pongah,
1500 perak sekilo.
hari itu, karung dan kakinya hanya mampu menggerakan
jarum timbangan kuno ke garis ke empat,
cukuplah membuat perut berhenti sekarat, syukurnya.

botolbotol itu lalu dibeli oleh seorang bapak
yang tak kalah sekarat, oleh sekolah anaknya yang melarat,
oleh dapur isterinya yang berkarat, oleh sepatusepatu dari cina yang keparat.
botolbotol nyaris tamat itu adalah satusatunya barang
yang bisa dia beli dalam jumlah banyak,
: dengan botolbotol itu dia ingin merayakan kekalahan.

ditiuplah botolbotol itu dengan serpih doa
yang masih dia sisakan sebelum mengering menamat.
ditempelinya dengan pernik, warni,
dan segulung tenggorokan dari kertas yang menyulap
botolbotolnya menjadi sangkakala,
dia tahu, disetiap akhir kalender, bumi akan dipenuhi
suarasuara yang ingin mengalahkan ketakutan mereka pada langit.

lalu, malam ini, didengarnya teriakan dari sebiji botol,
ditiup oleh seorang anak yang harus menukar terompet
dengan pukulan ayah yang kantongnya melarat,
sebab hari tadi, karung miliknya tidak cukup setengah terisi.

bapak itu akhirnya bisa merayakan kekalahannya.
si anak terus meniup terompet. hingga dilindas pagi.
hingga terompet itu kembali menyampah, menjadi botol tak bernyawa.


Makassar, 2011

Senin, 26 Desember 2011

Sajak: Maira! Maira!

      Kepada Sape


kalian tidak punya tongkat Musa
hanya sebakul permintaan rakyat biasa
juga tak punya bahtera Nuh
cuma pikiran dan hidup yang kian jenuh

: dan berangkatlah pagi-pagi segerombolan burung ababil
membawa bedil, otak secuil, dan kesombongan ala Fir'aun yang batil
ingin menjadi Izrail bagi jiwa-jiwa tak punya kuasa
melempar batubatu dari istana pandir. anyir.

Maira! Maira!
pergi ke tepi laut merah, ke ujung hitam darah!

langit bergairah, mengucap selamat datang
pada dua gugus bintang yang binar di pucuk siang. bintang Made.
ombak meruah. tumpah amarah. tumpah serapah.
Sape jadi laut Nuh, tanpa tongkat Musa
Fir'aun bersimbah salah, larut dalam taguth.

Maira! Maira!
pergi ke tepi laut merah, ke ujung hitam darah!


Makassar, 261211



Cat:
Maira = Ayo (Bima)
Made = Maut (Bima)
Taguth = Melampaui batas (Arab)

Jumat, 02 Desember 2011

Sajak: Serambi Desember

           : M Taufiq Mansyur 

Desember adalah serambi yang dipenuhi bau warna jingga
ia tidak pernah tahu, bahwa ia adalah dedahan terakhir yang dicintai benih dan hujan.

dalam sepohon tahun, biasanya desember bercabang sangat ranggas
melampaui dahandahan yang dua belas.

seperti kamu, ia suka menangkap senja, mengurungnya dalam baitbait
yang tidak pernah selesai ditelimpuhi aksara. mati lalu hidup lagi.

begitulah ia, adalah serambi yang dipenuhi bau jingga, selaksa wajah mega
dan seperti aku, ia suka melepas hujan ke ladang-ladang yang tak terjangkau suara.



Makassar, 011211