Teras

Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juni 2012

Merajut


malam tiba dengan pakaiannya yang camping
ditanganku, ada jarum dan benang wol dan rindu yang ramping
sudikah kamu mengajariku merajut, seperti embun dan rumput?


2012

Spasi


sebab kita adalah besok
hanya jalanan tanpa lampu
bus tanpa terminal, terminal tanpa bangku penumpang
orangorang yang kehilangan peta dan alamat.

sebab kita hanya nanti
abuabu berhenti, suara meletih
apalagi jarak dan spasi.


2012

Di Makassar yang Diam


aku tertidur dengan iga yang tega
menusuk dada pada bagian paling ku jaga

di Makassar yang diam
lampu jalanan hening dan laronlaron tua
cahaya kerucut
seumpama payung yang kelelahan
menampung udara hitam dari senja yang perlahan.

lagu melankolia, malam menyempit
berhenti mengenakan gaun pesta
di Makassar yang diam
udara yang tidak pernah buta
tidak pernah lupa,
tidak pernah tiba dan alpa.


2012

Pelukan Ibu


pelukan ibu kini telah menjadi seorang lelaki tua yang menunggu. di beranda, pada setiap pagi yang berubah. ada segelas teh yang setia menemani paginya yang sepi. juga sebuah pohon ketapang yang hidup begitu saja di pekarangan. baginya, pagi adalah saat ketika rindu dan pelukan menjadi hal paling memilukan. lebih pilu dari ubanuban yang memangkas umur dan masa mudanya.


pelukan ibu kini telah menjadi segelas teh yang diseduh gadis-gadis di jauh seberang, di jauh pelukan. segelas ucapan hangat sebelum hari dimulai dan hidup dipenuhi hiruk pikuk yang tidak pernah menunggu. gelasgelas teh yang diseduh untuk masa kecil yang teduh dan lebat. dan hujan tibatiba menjadi dua kali lebih sendu. seperti bungabunga di pekarangan yang hidup subur karena ibu merawatnya seperti gadis-gadisnya--yang selalu merindukannya.


2012

Senin, 20 Februari 2012

Halaman

sebelum kamu pergi, aku menanam beberapa tanaman di halaman:

Kangkung
ia adalah batang kecil yang bermimpi setinggi kemangi
bermimpi menjadii raja di ladang yang ditumbuhi rindu yang tak pernah sembuh
hidupnya ceria, tangkas, dan seolah-olah sadar betul
bahwa suatu hari ia akan menjadi penawar racun paling masyur

daun kangkung seperti dirimu yang terus tumbuh
melalang, menubuh, menemukan matahari yang belum sempat terbit
dari balik putik masa depanmu yang lentik

Kemangi
setengah ladang dipenuhi bunganya yang gugur
bersamaan dengan harihari yang terlahir sendiri

kemangi adalah awanawan yang melarikan diri
dan bosan menurunkan hujan,
mereka tahu aku sedang menunggu kemarau pertama
saat kemangi menggugur-gugurkan dirinya
yang berisi kamu

Bayam
tidak pernah Amaranthus tidak menegurku
setiap pagi, saat air dari ember yang aku bawa
juga menegur mereka.

ia anak yang manja. tak mau makan, ingin terus bermain.

besok, aku berencana membawa ia ke pada kamu
sebab kamu yang paling tahu bagaimana
menaklukkan batu dan anak yang manja
seperti aku dulu.


2012

Minggu, 19 Februari 2012

Perihal Memori

(1)
rindu selalu kembali di tempat ia bertemu

seperti perahu yang pergi melaut
dan anakanak ombak yang menyusu ibu

seperti tugu yang satu
tempat pertemuan bertemu disimpang empat
dan malam menjajakan lampulampu

ada lagu yang terus bernyanyi hingga ia penuh uban
juga kereta kenangan yang kerap membawa kita pada
tempattempat dimana rindu sering datang berkunjung
kadangkadang memaksa,
sementara kita belum punya guci dan lemari
buat menyimpan memori.

(2)
aku membelikan untuk mu sebuah puisi
bisa kamu pakai untuk mengurung percakapanpercakapan
yang kamu anggap terbaik, paling estetik.

sebelum kamu pergi, kamu mengisi seekor ikan koi
dan hiasan di puisi itu, ini agar puisi mu selalu basah
kau mengucapnya tiga kali sebelum mengecap
udara malam yang perlahan dipenuhi bau dupa

sesuatu tengah terbakar.
semoga bukan memori  yang berencana ingkar.


08022012

Kunang-Kunang dalam Kubah

malam tidak menyisakan apaapa selain udara yang pecah
berkepingkeping dan pasrah
air danau memain-mainkan lukisan masjid tua
yang timbul tenggelam dalam temaram
bagai subuh yang belum menjumpai azan pertama

rumput begitu basah
menikmati sujud yang belum selesai
sementara embun perlahanlahan rontok
dari kubah langit yang dipenuhi kunangkunang

kunang
kunang
kenang
pohonpohon larut dalam zikir yang silih
malam masih hitam. masih bersih.


Danau Unhas, 15022012

Senin, 23 Januari 2012

Eyato Dan Negerinya yang Frustasi

Berulang kali, Lebida’a Eyato menghasut para budak yang sedang membangun Benteng Otanaha dan Ulupahu. Benteng itu tidak boleh selesai. Harus gagal. Jika tidak, perang antara Limutu dan Hulontalo akan terus berkobar—tak pernah padam. Disebarkannya rasa cemas dan pesimistis kepada ratusan pekerja. Ke pikiran para budak yang siang-malam membuka gunung, mengeraskan batu dan kapur dengan telur malewo, memancang 361 anak tangga, mendirikan sebuah benteng yang ketika digunakan malah akan menambah kesengsaraan mereka sendiri. Di pikiran mereka terdapat bisikan yang membenarkan perkataan Lebida’a Eyato: untuk apa kita susah payah membangun benteng ini. Toh, di kerajaan seberang ada orang-orang sakti yang akan meluluhlantakan benteng ini dengan sekali tiup. Sia-sia.

Mendengar hasutan Lebida’a Eyato, para pekerja itu surut berkerja. Hilang semangat dan harapan. Perasaan sia-sia menjalar dari telinga ke otak lalu ke tubuh yang jadi ogah-ogahan bekerja. Lebida’a Eyato menang.

Heran dengan kerja para budak pekerja yang kian menurun, ributlah kerajaan Limutu. Penyakit apa gerangan yang tengah menjalar di pikiran dan tubuh para budak. Lalu diutuslah investigator kerajaan. Ditanyailah para budak perkerja yang pucat karena kekurangan harapan, pupus cita-cita. Dan tidak sulit mendapatkan jawaban dari rakyat yang tidak punya kuasa. Kesimpulan investigasi itu jelas: Lebida’a Eyato harus mempertanggungjawabkan ulahnya di depan Majelis Pemerintahan.

Lebida’a Eyato malah senang. Itulah yang ia harapkan.

Aku  bosan dengan perang. Di depan pembesar negeri, Lebida’a Eyato menampar semua pembesar yang hadir di Banthayo Pobo’ide dengan kata-kata. Telak. Dikatakannya bahwa maksud dari semua kelakuannya adalah tidak lain sebagai bentuk protes dan sebuah niat untuk segera mengakhiri semua perang saudara, segala perebutan kekuasaan. Usaha pertanian rakyat terlantar, kelaparan membayang-bayang di Limutu dan Hulonthalo, semua menderita, alasan-alasan Lebida’a Eyato mengalir dan menghujam keras para pembesar negeri. Dan, sekali lagi, ia menang.

Dan tercatatlah sejarah rekonsiliasi, perdamaian tak bersyarat, dan rekonstruksi negeri paling masyur dalam catatan sejarah Gorontalo: Lo’u Duluwo Limo Lo Pahala’a.

Usang
Nyaris 16 abad kemudian, usaha dan keberanian itu, kini telah tenggelam bersama cincin kembar Popa dan Eyato di danau yang semakin surut. Sementara, ketulusan dan kewibawaan juga kian usang seperti tembok tiga benteng yang menemani danau limboto.

Ini dia tanah yang dipersatukan Lebida’a Eyato berabad silam. Tanah yang masih penuh budak. Budak dan tuan belanja. Kebudayaan kalah telak oleh suara sirine mobil patwal yang terus-menerus meraung-raungkan kekuasaan. Pemimpin-pemimpin kekanak-kanakan yang gemar bermain drama dengan rakyat sebagai penonton yang—mau tak mau—harus membayar. Agama hanya menjadi alat politik yang bertenger di baliho-baliho dan program-program lucu. Mungkin mereka sudah lupa paduma: agama wohi titalu | Lipu pe’i hulalu.

Ya, sebagai penonton, kita hanya dapat menyaksikan, terharu, memaki, dan marah. Menyaksikan hutan dijual, kemiskinan dipelihara, proyek mubazir dilestarikan, ruko-ruko ditanam, baliho di panen, dan banjir dikoleksi. Sebuah sinetron dengan episode yang lebih panjang dari “Tersanjung” dan “Cinta Fitri”. Sialnya, kita hanya bisa terus menonton tanpa diberi kesempatan untuk mematikan televisi.

Jagung sebagai trade mark negeri Eyato tinggal menjadi catatan kaki ekonomi dan semacam nostalgia akan kegagalan yang punya citra baik. Tanah yang dulu begitu begitu rindang, kini lebih subur ditumbuhi ruko dan mall yang lebih cepat berkembang daripada kantong masyarakatnya. Ikan-ikan semakin lari ke laut dalam, sementara nelayan masih bertahan dengan kapal-kapalnya yang bermesin dangkal. Sekali-kali, patutlah kita bertanya, masih berapa tahun lagi kita bisa menikmati nike saat bulan purnama? Dan, manggaba’i, dimana dia akan tinggal setelah rumahnya kekurangan pasokan air dari 18 anak sungai dan terlanjur penuh dengan pupuk dari sawah-sawah yang juga hanyut?

Kendaraan pribadi terus bertambah sementara stasiun bahan bakar tidak henti-hentinya dipenuhi antrean yang memburu bensin. Maka dimana ada SPBU, disitu ada lusinan depot. Sementara para pemimpin diam saja menyaksikan rakyatnya yang menjadi sangat temperamen karena tidak tahu lagi harus marah pada siapa. Orang-orang yang nyaris frustasi. Untuk menghibur diri dengan main laptop pun menjadi sulit karena batere laptop bocor sementara listrik di rumah selalu mati.

Tapi jika ini terlalu memusingkan, jangan khawatir. Kita sudah ketambahan mall yang bisa membuatmu melupakan semua masalah kecuali kenyataan bahwa dompet semakin tipis. Ayo belanja, belanja, dan belanja!

Saat menulis ini, pikiran saya seperti remuk, sayup-sayup terdengar tuja’i. Sebuah teguran dari Baate lo Panggulo kepada Raja Eyato agar senatiasa berhati-hati pada segala yang asing: orang, p(em)ikiran, dan hati yang asing.
Dahayi bolo o awota (jaga jangan sampai  digauli)
Wawu bolo o bolota (dan jangan samapi dicampuri)
Lo ta tingayi motota (oleh orang-orang yang sama-sama pintar)
Dahayi bolo o wakungga (jaga jangan sampai tersusupi)
Lo ta tinggayi modungga (oleh orang-orang yang sama ahli)
Wonu wahu o paduma (kecuali teguh dan punya pedoman)
Janji ngongolobunga (berjanji sama-sama terkubur)

Mungkin tuja’i itu untuk kita. Yang selalu terpukau dengan sesuatu yang “asing”. Selamat Hari Patriotik!

Selasa, 17 Januari 2012

Sajak: Poliyama Lo Huliyaliyo

ketika pemimpin diberi segenggam langit,
harusnya ia diajar perihal rasi
yang tidak pernah berkhianat pada nasib
yang menggelantung kokoh seumpama lelaki
gembala di padang langit, memegang tongkat dan terompah
memandu domba yang kerap tersesat
lupa rumah, hilang arah, lalu menjarah.

saat pemimpin diserahi sehampar bumi,
hendaklah ia berdiri seperti biduk bertiang tujuh
tegar. tak pernah meninggalkan utara
dan amanah yang diberikan langit padanya

sebab, jika tidak, ia akan berubah jadi beruang
kekar dan berang
juga tak ingat jalan pulang.


16012012

Rabu, 04 Januari 2012

Sajak: Jauh

Jaga dia, dalam sungai saat deras
saat lengan tak terlampau gegas

Jaga dia, bila debu beterbangan
membutakan. melenakan.


2012

Senin, 02 Januari 2012

Tonight I Can Write The Saddest Lines by Pablo Neruda

Tonight I can write the saddest lines.

Write, for example,'The night is shattered
and the blue stars shiver in the distance.'

The night wind revolves in the sky and sings.

Tonight I can write the saddest lines.
I loved her, and sometimes she loved me too.

Through nights like this one I held her in my arms
I kissed her again and again under the endless sky.

She loved me sometimes, and I loved her too.
How could one not have loved her great still eyes.

Tonight I can write the saddest lines.
To think that I do not have her. To feel that I have lost her.

To hear the immense night, still more immense without her.
And the verse falls to the soul like dew to the pasture.

What does it matter that my love could not keep her.
The night is shattered and she is not with me.

This is all. In the distance someone is singing. In the distance.
My soul is not satisfied that it has lost her.

My sight searches for her as though to go to her.
My heart looks for her, and she is not with me.

The same night whitening the same trees.
We, of that time, are no longer the same.

I no longer love her, that's certain, but how I loved her.
My voice tried to find the wind to touch her hearing.

Another's. She will be another's. Like my kisses before.
Her voide. Her bright body. Her inifinite eyes.

I no longer love her, that's certain, but maybe I love her.
Love is so short, forgetting is so long.

Because through nights like this one I held her in my arms
my sould is not satisfied that it has lost her.

Though this be the last pain that she makes me suffer
and these the last verses that I write for her.


***
Dulu, waktu pertama menjadi mahasiswa (a.k.a Maba), seorang senior memperkenalkanku pada sebuah sajak yang dia terjemahkan, dari seorang penyair yang sama sekali tidak pernah ku dengar. Sajak terjemahan itu berjudul, "Aku bisa menulis larik-larik paling lirih malam ini". Aku tidak memerlukan waktu lama untuk jatuh cinta pada sajak itu. Dengan instrumen "Elegance of Pachebel", larik-larik itu seolah bisa masuk disetiap bagian-bagian sentimental dalam diriku. Gila. Untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta pada sajak.
Dari titik itu, aku mulai "menseriusi" "larik-larik". Mulai suka "merayunya", mengajaknya jalan-jalan dalam setiap petualangan-petualangan kecilku.
Hampir 4 tahun sudah hingga malam ini, saat googling, aku tanpa sengaja melihat lagi puisi itu. Meski dengan versi yang beda (yang dulunya juga sangat ku suka). Saat membacanya lagi, rasa-rasanya, ya, aku bisa menulis larik-larik paling lirih malam ini...:-)

Sajak: Ode Buat Sebiji Terompet

yang ditiup malam tadi. hingga dilindas pagi.

terompet dari benih sampah. botol air tak bermineral.
yang menghidupi tangantangan pemungut
sisasisa nafas dari setiap biji botol yang hampir tamat.

botol sekarat itu lalu dijual si pemungut ke penadah yang pongah,
1500 perak sekilo.
hari itu, karung dan kakinya hanya mampu menggerakan
jarum timbangan kuno ke garis ke empat,
cukuplah membuat perut berhenti sekarat, syukurnya.

botolbotol itu lalu dibeli oleh seorang bapak
yang tak kalah sekarat, oleh sekolah anaknya yang melarat,
oleh dapur isterinya yang berkarat, oleh sepatusepatu dari cina yang keparat.
botolbotol nyaris tamat itu adalah satusatunya barang
yang bisa dia beli dalam jumlah banyak,
: dengan botolbotol itu dia ingin merayakan kekalahan.

ditiuplah botolbotol itu dengan serpih doa
yang masih dia sisakan sebelum mengering menamat.
ditempelinya dengan pernik, warni,
dan segulung tenggorokan dari kertas yang menyulap
botolbotolnya menjadi sangkakala,
dia tahu, disetiap akhir kalender, bumi akan dipenuhi
suarasuara yang ingin mengalahkan ketakutan mereka pada langit.

lalu, malam ini, didengarnya teriakan dari sebiji botol,
ditiup oleh seorang anak yang harus menukar terompet
dengan pukulan ayah yang kantongnya melarat,
sebab hari tadi, karung miliknya tidak cukup setengah terisi.

bapak itu akhirnya bisa merayakan kekalahannya.
si anak terus meniup terompet. hingga dilindas pagi.
hingga terompet itu kembali menyampah, menjadi botol tak bernyawa.


Makassar, 2011

Senin, 26 Desember 2011

Sajak: Maira! Maira!

      Kepada Sape


kalian tidak punya tongkat Musa
hanya sebakul permintaan rakyat biasa
juga tak punya bahtera Nuh
cuma pikiran dan hidup yang kian jenuh

: dan berangkatlah pagi-pagi segerombolan burung ababil
membawa bedil, otak secuil, dan kesombongan ala Fir'aun yang batil
ingin menjadi Izrail bagi jiwa-jiwa tak punya kuasa
melempar batubatu dari istana pandir. anyir.

Maira! Maira!
pergi ke tepi laut merah, ke ujung hitam darah!

langit bergairah, mengucap selamat datang
pada dua gugus bintang yang binar di pucuk siang. bintang Made.
ombak meruah. tumpah amarah. tumpah serapah.
Sape jadi laut Nuh, tanpa tongkat Musa
Fir'aun bersimbah salah, larut dalam taguth.

Maira! Maira!
pergi ke tepi laut merah, ke ujung hitam darah!


Makassar, 261211



Cat:
Maira = Ayo (Bima)
Made = Maut (Bima)
Taguth = Melampaui batas (Arab)

Jumat, 02 Desember 2011

Sajak: Serambi Desember

           : M Taufiq Mansyur 

Desember adalah serambi yang dipenuhi bau warna jingga
ia tidak pernah tahu, bahwa ia adalah dedahan terakhir yang dicintai benih dan hujan.

dalam sepohon tahun, biasanya desember bercabang sangat ranggas
melampaui dahandahan yang dua belas.

seperti kamu, ia suka menangkap senja, mengurungnya dalam baitbait
yang tidak pernah selesai ditelimpuhi aksara. mati lalu hidup lagi.

begitulah ia, adalah serambi yang dipenuhi bau jingga, selaksa wajah mega
dan seperti aku, ia suka melepas hujan ke ladang-ladang yang tak terjangkau suara.



Makassar, 011211

Jumat, 18 November 2011

Sajak: Senyum yang Mencintai Kopi

            : Ismanto

selamat pagi kopi. cangkir yang berisi perkenalan dan bebulan separuh jalan.
dirimu tengah meneguk tegukan setengah, menengadah,
menikmati kopi yang tidak lebih pahit dari hidup yang sedang kita perbincangkan.

“aku mencintai kopi, lebih dari puisi,” sergahmu kepada sebatang kretek
yang mengepulngepulkan embun dan beberapa sajak separuh rupa
kamu lalu tertawa, mengeluarkan beberapa sisa mimpi yang belum tuntas dicerna oleh perut kamu yang hampir buncit berisi baitbait tentang ibu dan kekasihmu.

sarapan kita hanyalah lanjutan percakapan, sepiring mau, secangkir ingin.
“tapi ini sudah lebih dari cukup,” senyummu, “asali woluwo kopi.

beberapa bulan nanti, aku kaget, melihat dirimu sudah memiliki kastil kecil
dari serpih kopi, remah mimpi. inikah puisi yag kamu buat dulu? sebegini bentuk?

ah, selamat pagi kopi. aku, tibatiba, mencintai kopi, sambil menyeruput puisi.


Makassar, 191111

Kamis, 17 November 2011

Sajak: Pohon Api

aku turun dari rumah, hari senin,
menuju hutan yang dipenuhi buku dan anak muda bermuka dukun
aku berniat mencari sebuah goresan buatan tangan
sebagai nama bagi anak pertama yang sudah sepuluh bulan tertunda lahir.
ayahku terlampau ingin jadi ayah, sudah lama ia tak mengenakan
baju kerawang yang dibeli ibu dengan bantal dan sebuah puisi dari dapurnya.

aku turun dari rumah, pukul sepuluh lebih lima,
menuju hutan yang sudah penuh dengan bongkahan batu yang terbang gemilang
seperti gunung runtuh, melempar hatihati sekeras batu
teriakan makhluk hutan, serupa kera, sehabis berebut pohon
saling membakar dahan-ranting-pepohon, sekaligus buah yang tidak pernah mekar ranum

aku rasa aku salah tujuan. keliru titian. salah masuk hutan.

pohonpohon berubah merah, memancar-mancarkan abu penuh kepalan
seperti bangunan merah kelam. hitam tua.
langit yang tibatiba malam berubah jadi kubah
yang sesak oleh teriakan: mahlukmahluk hutan yang ketakutan.

malam silih meretih. aku akhirnya dilerai pulang oleh rasa yang mirip sedih.
aku rasa aku tidak salah tujuan. cuma tidak cukup pulang untuk melihat pohon api dan burung ababil.



Tepi Kampus, 171111

Rabu, 02 November 2011

Sajak: Rumah Remah

Rumah
rumahrumah seperti remah bawang yang riuh
digoreng disebuah wajan yang terbuat dari gegunung setengah hijau

orangorang menyapih hidup dengan perjalanan panjang dari dunia berantah
dunia serapah

aku, berbaring dengan udara yang membuat pikiranku memerlukan tiupan
dari mulutmu yang embun
kau, di ujung. aku, di tengah.
kita teperangkap dalam sebuah percakapan yang terpaut biru laut
percakapan tentang masamasa nanti yang telah kita lewati

Remah
orangorang lalulalang, dengan seribu petualang

aku, duduk di kursi sebuah hotel yang paling tidak membuat kantong ku berteriak
seraya mengirimi mu ucapan selamat siang dari perut yang belum makan dari pagi.
tapi begitulah rindu, ketika hati penuh, dia mengisi perut
membuat lapar tak betah. membuat aku menikmati jarak dan kota ini.

kota ini adalah remah yang dilahap para petualang
petualang yang datang dari langit selatan, langit tak berpenjuru.


Palu, 011111



Kamis, 27 Oktober 2011

Sajak: Hari Sampah Pemuda

Tak ada lagi sumpah
sekarang tinggal serapah

Tak ada lagi janji setia
kini tinggal ingkar apologia

Lalu cuma tersisa sekonyong daging muda
segar
tak punya mimpi, kecuali mimpi yang basah
mimpi yang kental, anyir, dan hitam kelam

Tak ada lagi sumpah
tinggal setumpuk sampah: bernama pemuda.


28102011

Sabtu, 01 Oktober 2011

Sajak: Tanggomo


Bismillah
begitu syair selalu dimula
lalu sejarah terbentang sepanjang rima

tutur berkejar bernampak
menarik lariklarik serupa komedi dan epik

terlahir kembali kisah dan cerita
dalam semua hujung.
oh, aduhai!


Gorontalo, 090111
Langkah pertama sebuah sejarah...

Sajak: Sisa Kue Seorang Ibu untuk Anaknya


                     : atika

pada mulanya kue ini utuh, bulat penuh
lalu setiap tahun sepengal demi sepenggal, usia memotongnya
lilinnya dulu cuma butuh satu dua tiga biji
tapi ibu sudah beli dari warung sebelah: dua puluh satu biji
alangkah terang kue ini sekarang, nak!

dulu sekali, kue ini masih penuh coklat dan gulagula
ada juga krim serupa bunga di atasnya
oh, imut nian perangai kue itu
seperti sebuah taman bunga yang disirami hujan coklat.


kemarin kue itu sudah penuh comotan,
kamu tahu kan, soal kue, anak kecil dan orang dewasa
menjadi tak punya beda.
mungkin kue adalah satusatunya hal yang membuat manusia terus muda.

tenang saja.
sekarang dia lebih mirip semak semerbak
di musim kemarau yang dulu teratur datang.
ibu sudah menaburnya dengan keju, coklat putih, dan
beberapa bahan makanan yang aku lupa namanya.

memandangi kue ini aku seperti melihat diriku dalam kaca
yang mengikatkan tali sepatumu, menguncir rambutmu,
dan mendengarmu mengucap salam dengan ucapan yang belum sempurna.

ah, nak, cepatlah pulang dari sekolah.
bilang sama muridmuridmu kalau ada hari yang lebih penting
dari upacara hari senin.
cepat potong sisa kue ini! tiup dua puluh satu biji lilin!
lalu kita merayakan hari dimana ibu hampir mati.
Selamat ulang tahun, anakku...


Makassar, 061010